magang.ekspresionline.com–Tempat sampah non-organik (biru) penuh hingga meluap, sehingga warga kampus membuang sampah ke tempat sampah organik atau B3 di sebelahnya. Jumat, 11 Desember 2025. Foto oleh Naurah/Badhar.
Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dikenal sebagai kampus yang membawa konsep green campus. Usaha UNY dalam mewujudkan kampus hijau juga mendapat pengakuan dari UI GreenMetric pada tahun 2023, yang dipublikasikan melalui laman resmi universitas. Laporan resmi UNY tahun 2020 juga mencatat bahwa pengolahan sampah di kampus telah terealisasi sebesar 76,67% dari target 60% (Laporan Pelaksanaan Program UNY 2020, hlm. 72). Berbagai fasilitas ramah lingkungan disediakan untuk mendukung hal tersebut, termasuk tempat sampah dengan pemilahan warna. Namun, kondisi di lapangan justru memperlihatkan bahwa konsep ini belum sepenuhnya berjalan dengan baik.
Foto yang ditampilkan menunjukkan tiga tempat sampah dengan kode warna yang digunakan di kampus. Kuning untuk sampah B3, merah muda untuk sampah organik, dan biru untuk sampah non-organik. Sistem ini seharusnya memudahkan warga kampus membuang sampah sesuai kategori, tetapi kenyataannya pemilahan ini tidak dapat diterapkan secara optimal.
Di salah satu sudut kampus, tempat sampah berwarna biru (sampah non-organik) tampak penuh hingga meluber dengan botol plastik dan kemasan minuman. Pada dasarnya hal ini bukan masalah besar karena sampah tersebut sudah masuk ke kategori yang tepat. Namun, karena tempat sampah biru yang tidak lagi memiliki ruang untuk menampung sampah tambahan, sebagian botol plastik akhirnya dibuang ke tempat sampah merah muda yang seharusnya hanya berisi sampah organik.
Kondisi fisik tempat sampah juga menunjukkan tanda-tanda kurangnya perhatian, mulai dari warna yang kusam, tutup yang rusak, hingga stiker label yang terkelupas. Bahkan label “Sampah Non-Organik” pada tempat sampah biru telah memudar sehingga hampir tidak terbaca. Meski begitu, keadaan ini bukan berarti warga kampus tidak peduli.
“Pernah sih, kalau sore atau malam habis makan di foodcourt atau kantin mau buang sampah, terus nemu tempat sampah yang udah penuh banget sampai gak cukup gitu, apalagi bekas makanan kayak sterofoam atau plastik yang ukurannya gede. Jadi, yaudah akhirnya asal buang ke tempat sampah lain, karena pas di lihat juga tempat sampahnya udah kecampur-capur gitu loh,” ujar Afifah, salah satu mahasiswa FMIPA.
Ketika tempat sampah non-organik penuh dan tidak segera dikosongkan, pilihan warga kampus menjadi terbatas. Mereka akhirnya membuang sampah ke tempat yang masih kosong meskipun tidak sesuai kategorinya. Ketidakteraturan ini menunjukkan adanya celah dalam pengelolaan lingkungan kampus. Tanpa perawatan rutin, pengecekan isi tempat sampah, dan kejelasan label, sistem ini justru menghambat perilaku benar yang sebenarnya ingin dilakukan warga kampus. Inilah yang membuat label green campus terasa tidak sesuai, lebih menyerupai slogan daripada bukti nyata.

Tempat sampah non-organik (biru) penuh hingga meluap, sehingga warga kampus membuang sampah ke tempat sampah organik atau B3 di sebelahnya.

Tempat sampah non-organik (merah muda) penuh hingga meluap, sehingga warga kampus membuang sampah ke tempat sampah organik atau B3 di sebelahnya.

Kondisi tempat sampah yang sudah kusam dan label nama yang mulai pudar, sehingga tidak terlihat jelas. Jumat, 11 Desember 2025.
Penulis : Salsabila Naurah Wibowo
Editor: Ferry Sanjaya

Leave a Reply