magang.ekspresionline.com–Mereka Mengeja Larangan Mengemis: Mengungkap Bobroknya Pemerintahan di Indonesia.
Penulis: Ahmad Tohari
Penerbit: Kompas
Tahun terbit: 2019
Cerpen karya Ahmad Tohari ini berhasil mengkritik betapa bobroknya negara kita tercinta, Indonesia, terkait ekonominya yang belum juga merata hingga berdampak pada kualitas pendidikannya yang belum maksimal. Dalam cerpen ini, pembaca dibuat melek akan satu hal, banyak anak-anak di luar sana yang belum mendapatkan pendidikan yang layak. Hal itu terbukti ketika cerpen ini menjelaskan bahwa dari kelima anak-anak yang ada, hanya ada satu yang mendapatkan kesempatan untuk sekolah, Gupris namanya, itu pun ia tidak bersekolah sampai selesai.
Ironis, bukankah setiap anak memiliki hak untuk mengenyam pendidikan yang layak? Tetapi pada kenyataannya, hal itu tidak bisa didapatkan oleh Gupris dan teman-temannya. Alih-alih bersekolah seperti anak-anak seumuran mereka, kehidupan mereka hanya berputar pada terotoar dingin, bak terbuka milik truk yang berlalu-lalang, dan usaha kecil untuk mencari sesuap nasi di pinggir jalan. Dari sinilah, pembaca akan ditarik untuk menelusuri kehidupan mereka yang kurang beruntung lewat cerpen ini.
Ceritanya bermula ketika Gupris dan teman-temannya memulai pagi dengan tumpangan truk menuju perempatan Karangasu. Mereka asyik bercanda di bak truk itu seolah tidak ada beban hidup yang begitu berat di pundak mereka. Sesampainya di tempat biasa mereka mengamen, kelima anak itu bergegas melompat turun dan siap beraksi, hendak bernyanyian di pinggir jalan. Berharap akan ada orang yang berbaik hati memberi mereka sepeser uang untuk membeli makan.
Belum sempat mereka bernyanyi, Gupris adalah anak pertama yang menyadari bahwa ada perbedaan di tempat mereka biasa mengamen. Ada sebuah papan pengumuman yang tertancap di ujung perempatan, bertuliskan sesuatu. Sebagai satu-satunya anak yang bisa sekolah, Gupris mulai mengeja kata demi kata yang ada di papan itu. Selesai mengeja, Gupris tidak mengerti apa maksud tulisan di papan itu, bertanya pada teman-temannya yang lain dan malah mendapatkan cengiran sebagai jawaban atas ketidaktahuan mereka, sama bingungnya seperti Gupris.
Di tengah perdebatan anak-anak itu mengenai maksud kata-kata yang ada papan itu, datanglah seorang hansip, Karidun namanya. Cerpen ini menceritakan sikap si hansip yang sibuk memamerkan otoritas daripada memahami makna sebuah aturan, memicu rangkaian dialog yang lucu sekaligus getir antara dirinya dan Gupris yang memiliki pertanyaan kritis
Hansip Karidun bukannya memberikan penjelasan justru malah mengancam anak-anak itu melalui larangan yang tertulis di papan. Pada akhirnya, mereka pergi menumpang truk yang lewat, meninggalkan perempatan dan papan larangan yang membuat mereka bergidik takut akan ancaman kurungan. Perginya mereka membuat hansip Karidun bangga, merasa bahwa ia telah menjalankan tugasnya dengan begitu hebat. Padahal, mereka hanya berpindah tempat mengamen dan bukannya benar-benar mematuhi papan larangan yang mereka lihat sebelumnya.
Pendekatan Pemerintah yang Begitu Dangkal
Cerpen menyoroti tentang papan larangan baru yang tertancap di sudut terotoar. Papan itu bertuliskan, “Barang siapa mengemis dan mengamen, dipidana kurungan,” dan sedihnya, hanya Gupris yang dapat membacanya, walaupun tidak dapat mengerti apa maksudnya. Pemasangan papan itu jelas menjadi simbol kebijakan yang hanya menyentuh permukaan suatu persoalan. Seolah tidak pernah benar-benar berniat untuk menyelesaikan persoalan yang ada.
Upaya yang terlihat hanyalah pemasangan papan dan bukannya pendekatan yang lebih mendalam. Tidak ada upaya untuk merangkul anak-anak yang mengamen di sana, memahami apa kebutuhan mereka, dan bahkan tidak memberikan jalan keluar untuk persoalan yang mereka alami.
Ironisnya lagi, setelah papan itu dipasang pun, kelima anak-anak itu tidak berhenti mengamen. Mereka hanya berpindah tempat karena merasa terusir dan takut setelah mendengar penjelasan dari hansip yang kebetulan melihat mereka. Hal ini menjadi bukti bahwa sebuah larangan sama sekali tidak memberi solusi, justru hal itu hanya akan memperpanjang suatu persoalan, sama halnya seperti yang dilakukan Gupris dan teman-temannya.
Pendidikan Sebagai Luka Struktural
Gupris adalah satu-satunya anak yang pernah sebentar bersekolah, sehingga hanya ia yang dapat mengeja kata “dipidana”. Pengetahuan kecil itu membuatnya selangkah lebih paham dibanding teman-temannya, tetapi sekaligus menyadarkan bahwa akses pendidikan di tempat mereka hanyalah mimpi mahal. Bagi mereka, sekolah bukan ruang tumbuh, melainkan tempat yang menuntut biaya yang tidak mampu mereka bayar.
Jangankan berpikir untuk bersekolah, dalam salah satu kalimat yang ada di dalam cerpen, teman Gupris bertanya pada hansip Karidun, “Apakah sekolah bisa dapat uang?” dan pertanyaan lugu itu mampu menohok pembaca. Kehidupan berat mereka selama ini yang hanya mengandalkan mengamen untuk mendapat uang, mengubah pola pikir mereka. Bukankah seharusnya mereka fokus untuk mengenyam pendidikan, mereka malah lebih senang untuk mengamen karena itulah satu-satunya mendapatkan uang yang mereka kenal.
Tak berhenti sampai disitu, ketimpangan pendidikan ini memanjang hingga dewasa. Terbukti oleh hansip Karidun yang memegang jabatan keamanan, tampil dengan keyakinan penuh tetapi pemahaman minim. Ketidaktahuannya ketika menjelaskan arti pidana saat Gupris bertanya memperlihatkan bahwa masalah pendidikan tidak berhenti di bangku sekolah, tetapi merembes ke cara orang dewasa berpikir hingga memegang kekuasaan.
Lewat cerita yang singkat dan hangat, cerpen ini menawarkan kritik yang tenang namun tajam. Ahmad Tohari mengingatkan bahwa masalah sosial tidak bisa diatasi dengan rambu dan larangan. Manusia perlu disentuh, didengar, dan diperlakukan sebagai manusia. Pada akhirnya, kepergian Gupris dan teman-temannya bukan hanya perjalanan kecil anak-anak jalanan, tetapi juga cermin tentang sejauh apa negara dan kita telah bergerak atau justru menjauh dari mereka yang paling membutuhkan.
Penulis: Sinta Nowi Natalia
Editor: Zulfanida

Leave a Reply