Ilustrasi oleh Nizal Anisykurillah/Badhar

Ketika Presentasi hanya Formalitas: Potret Keresahan Mahasiswa UNY

magang.ekspresionline.com–Metode presentasi menjadi metode pengajaran yang sering digunakan pada beberapa mata kuliah di UNY. Pada prinsipnya, presentasi memang membawa tujuan yang berdampak positif seperti melatih keberanian berbicara di depan umum, melatih berpikir kritis, dan menumbuhkan jiwa demokrasi. Namun, fakta lapangan mengatakan sebaliknya, banyak mahasiswa mengeluhkan ketidakefektifan pengajaran melalui metode ini.

Ketidakefektifan metode presentasi berawal dari minimnya pengarahan dari dosen tentang kejelasan materi apa yang harus dibahas, sehingga mahasiswa tidak memiliki panduan yang jelas terkait materi. Kondisi ini mendorong mahasiswa bertanya atau bahkan mulai mengandalkan AI yang dianggap lebih tahu, namun tanpa pemahaman yang kritis dalam mengolah informasi lebih lanjut oleh mahasiswa. Kondisi ini makin diperparah oleh minimnya daya literasi mahasiswa, praktik plagiarisme melalui ai pun muncul, sehingga pemahaman tentang materi yang kurang mengakibatkan mahasiswa tidak menguasai materi dengan baik saat presentasi.

Selain itu cara penyampaian materi yang kurang menarik dan monoton. Hal itu menjadikan daya minat audiensi terhadap materi pun menurun. Kebanyakan mahasiswa lebih tertarik pada gawainya masing-masing. Karena audiensi tidak tertarik, perhatian mereka menurun dan situasi kelas menjadi pasif, tidak adanya proses demokrasi untuk saling mengutarakan pendapat di kelas. Semuanya diam dan saling memandang.

Tidak heran jika sebagian mahasiswa yang memandang presentasi sebagai formalitas, aktivitas yang harus sekedar diselesaikan demi memenuhi tugas, bukan memaknai sebagai suatu proses belajar. Pandangan ini diperkuat ketika beban kerja dalam kelompok tidak terbagi secara adil, ada anggota yang bekerja keras menyiapkan materi, sementara yang lain hanya “menumpang nama” tanpa kontribusi berarti. Ketimpangan ini menambah rasa frustasi dan membuat mahasiswa semakin kehilangan motivasi. Ketika presentasi hanya dianggap sebagai kewajiban administratif, bukan alat pembelajaran, maka wajar jika kualitas hasilnya menurun dan tujuan pendidikannya semakin sulit tercapai.

Dampak dari rangkaian faktor ketidakefektifan tidak hanya terlihat pada kualitas presentasi, tetapi juga ada pada proses belajar keseluruhan. Mahasiswa yang melakukan presentasi tidak menguasai materi yang dibawakan dan para audiensi yang bersikap pasif karena kehilangan minat akan apa yang telah dipresentasikan. Masalah semakin kompleks ketika dosen yang seharusnya mendampingi proses jalannya pembelajaran justru meninggalkan kelas, karena ada agenda lain yang harus dikerjakan dan hanya menyerahkan untuk berpresentasi mandiri saja. Pada situasi ini sebenarnya merugikan mahasiswa, karena mahasiswa menjadi kehilangan kesempatan untuk mendapatkan umpan balik dari dosen tersebut. Tanpa adanya panduan dari dosen, kekeliruan dalam materi berjalan begitu saja dan mahasiswa yakin pemahaman yang mereka ketahui sudah cukup benar atau jauh dari apa yang dosen harapkan. Akibatnya, presentasi yang dilakukan hanya menjadi proses “menyampaikan” tanpa evaluasi, refleksi, atau peningkatan kualitas pembelajaran.

Situasi ini juga berdampak pada suasana akademik di kelas, proses pembelajaran menjadi kaku, tidak interaktif, dan kehilangan fungsi kelas sebagai ruang dialog. Mahasiswa yang pasif akhirnya hanya menjadi pendengar yang tidak terlibat dalam proses berpikir, sementara mahasiswa yang presentasi pun tidak mendapat kesempatan untuk memperbaiki pemahamannya. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menurunkan kepercayaan diri mahasiswa dalam berbicara di depan umum. Mereka merasa tidak mendapatkan bimbingan yang memadai untuk berkembang. Lebih jauh, kualitas diskusi kelas menurun karena tidak adanya dorongan dari dosen untuk menghidupkan suatu proses pembelajaran. Kelas yang seharusnya menjadi ruang bereksplorasi ide justru berubah menjadi rutinitas formalitas yang tidak memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan kemampuan akademik mahasiswa.

Pada akhirnya, jika masalah-masalah ini tidak diatasi dan dievaluasi bersama-sama. Tujuan positif dari metode presentasi yang diharapkan bisa mengembangkan potensi mahasiswa secara maksimal seperti mengembangkan keterampilan berpikir kritis, komunikasi, dan kolaborasi, justru berpotensi memperburuk kualitas pembelajaran di kelas. Dosen perlu memberikan arahan yang lebih terstruktur, memberikan contoh standar presentasi yang baik, serta menanamkan pentingnya integritas akademik. Mahasiswa pun harus meningkatkan literasi digital, kemampuan membaca, dan keterampilan menganalisis agar proses presentasi menjadi lebih bermakna. Dengan perbaikan pada kedua belah pihak, metode presentasi dapat kembali pada fungsinya sebagai pendekatan pembelajaran yang efektif dan relevan.

 

Zulfanida

Editor: Nizal Anisykurillah


Posted

in

by

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *